Dwi Wardoyo

Top Menu

  • Beranda
  • Kontak
  • Profile

Main Menu

  • Beranda
  • Tentang Saya
    • Profil
    • TBM GRIYA PUSTAKA
    • CGP ANGKATAN 9
    • Kontak
  • Materi Pembelajaran
    • Bahasa Indonesia
    • seni budaya
  • Humaniora
  • KARSAS
    • Cerpen
    • Puisi
  • Galeri
  • Pengumuman

logo

Header Banner

Dwi Wardoyo

  • Beranda
  • Tentang Saya
    • Profil
    • TBM GRIYA PUSTAKA
    • CGP ANGKATAN 9
    • Kontak
  • Materi Pembelajaran
    • Bahasa Indonesia
    • seni budaya
  • Humaniora
  • KARSAS
    • Cerpen
    • Puisi
  • Galeri
  • Pengumuman
  • MEWUJUDKAN PENDIDIKAN KARAKTER DAN KETERAMPILAN ABAD KE-21 DENGAN PENGAJARAN SASTRA UNTUK PESERTA DIDIK JENJANG SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

  • Praktik Baik Pembiasaan Membaca Meningkatan Keterampilan Menulis dan Motivasi Belajar

  • Karya STS Ganjil Bahasa Indonesia Tahun Ajaran 2023/2024

  • Catatan GADW- Refleksi Model 4F/4P

  • Catatan GADW – Identitas Gunung Es

Cerpen
Home›Cerpen›Memori Luka

Memori Luka

By GADW
February 11, 2021
233
0
Share:

Aku Marcel, seragam putih abu-abu menjadi identitasku sekarang. Ayahku keturunan China dan ibuku orang Jakarta. Tak perlu ditanya lagi wajahku seperti apa. Hidup dalam asuhan orang tua dengan memori kotor yang sulit untuk dibersihkan. Nasi yang tampaknya sudah menjadi bubur.

Dia adalah Ayu, orang asli Jawa yang sekolah di Jakarta. Cerdas, kritis, dan cantik. Rumahku tidak jauh dari rumah Ayu, hanya berjarak seratus meter. Namun, kedekatan itu tampaknya tidak membuat orangtuaku dekat dengan orangtua Ayu. Kami menjadi teman dekat sekadar di balik rumah. Jika orangtuaku mengetahui aku dekat bahkan pulang bareng dengannya, mereka tak segan-segan memindahku ke sekolah lain. Memang luka.

Hari ini aku, Ayu, dan Roy dipilih Pak Sapto untuk mewakili SMA Pelita mengikuti lomba debat tingkat provinsi. Pak Sapto meminta kami untuk setiap hari latihan, mengingat perlombaan kurang dari dua minggu lagi. “Roy, gua bingung nih.” Tanyaku pada Roy. “Kenapa Cel?” jawab Roy dengan wajah kebingungan. “Gua takut nih kalo papa gua tanya siapa aja temen lomba gua. Sedangkan Ayu tetangga sekaligus temen gua yang dibenci sama papa jadi tim lomba kita.” Kegelisahanku dalam menjawab. Pertanyaanku pada Roy tampaknya percuma, anak setengah idiot yang banyak omong namun kadang ngak nyambung ketika ditanya hanya senyum dan diam saja.

***

Hari ini adalah latihan yang ke tujuh, tidak usah ditanya bagaimana kemajuannya. Sejak dua hari yang lalu tim kami sudah kompak, tinggal bagaimana menguasai materi lebih dalam lagi. Lomba tinggal tujuh hari kedepan, dan sore ini kami latihan bersama tanpa pendampingan pak Sapto. Suatu hal yang menyenangkan karena lebih banyak waktu istirahat.

“Cel, apakah kamu sudah bilang ke orangtuamu jika kita satu tim lomba debat?” tanya Ayu dalam suasana keheningan belajar di dalam kelas.

Mata Roy yang tertuju pada kertas materi debat, membelokkan pandangannya ke mukaku yang kaget dengan pertanyaan Ayu. Dengan sedikit terbata-bata aku menjawab belum kepada Ayu. Aku sedikit takut menjawab pertanyaan Ayu, karena sebelum latihan dimulai aku berjanji padanya untuk mengatakan kepada orangtuaku bahwa Ayu adalah anggota tim debat. Ayu sungguh khawatir ketika mendengar bahwa aku belum mengatakan apapun pada orangtuaku. Ia khawatir jika papaku mengetahui hal ini dan menarikku untuk tidak mengikutui lomba debat.

Di suasana yang tidak mengenakkan ini aku juga mengatakan kepada Ayu dan Roy bahwa aku telah berbohong kepada papaku jika teman lomba debatku adalah Roy dan Lia. Lia anak keturunan China yang pernah dilihat papaku ketika terima rapot. “Lo gila ya Cel!” ungkapan Ayu kepadaku atas kekonyolanku. Aku hanya bisa diam saja dan berjanji kepada Roy dan Ayu untuk tetap ikut lomba bagaimanapun keadaanya.

***

Hari yang ku tunggu-tunggu akhirnya tiba. Dua mingu berlalu sudah cukup, untuk menampilkan perjuanganku saat latihan dalam perlombaan. Seperti biasa sebelum beraktifitas orangtuaku membiasakan sarapan pagi bersama. Dasi, jas, dan sepatu pantofel yang kemelap membuatku bertanya tanya akan tujuan papaku memakai tata busana seperti ini.

“Rapi banget mau kemana pa?”

“Papa kan orang penting. Hahahah.” Jawabnya denga jawaban yang belum aku temukan. Mengingat papa adalah orang yang suka humor, dan aku juga tidak ingin bertanya lebih banyak lagi supaya pertanyaan yang tidak aku inginkan muncul dari mulut papaku.

Lomba debat kali ini bertempatan di salah satu gedung di Jakarta selatan, dengan peserta lomba ada sepuluh tim. Sebelum memulai lomba aku duduk bersama Roy dan Ayu.

“Kita harus menunjukkan kemampuan kita.” Semangat dari Roy untuk aku dan Ayu.

“Udah berapa kali sih Roy kamu ngomong gitu? Mending belajar.” Sanggah Ayu yang membuat muka Roy jadi melas sendiri.

***

Ditengah latihan yang dingin tiba-tiba ayahku datang dan menarikku dari tempat duduk ke tempat yang sedikit jauh dari Roy dan Ayu. Ayu yang fokus dengan latihan menjadi tegang dan sangat terkejut.

“Siapa yang mengajari kamu berbohong? Papa sudah mengatakan sama kamu berkali-kali untuk tidak dekat dengan Ayu tapi kamu malah ngeyel.” Ungkap papaku dengan nada sedikit marah.

“Papa ngapain disini?” tanyaku dengan keberanian dalam suasana yang panas.

Dan ternyata papaku di sini sebagai juri lomba debat. Aku tidak bisa apa-apa lagi, karena papa meminta aku untuk pulang dan tidak mengikuti perlombaan. Aku sudah memohon berkali-kali namun papa tetap tutup kuping. Hingga dalam suasana yang tak ada harapannya lagi, Ayu datang dan berbicara pada papa. “Biarkan Marcel mengikuti lomba, jika ia tidak menang dalam lomba debat ini. Saya berjanji akan menjauhi Marcel. Namun sebaliknya, jika kami Menang bapak harus mau Marcel berteman dengan saya bahkan bapak harus berjanji untuk damai dengan keluarga saya.” Taruhan Ayu yang sangat konyol diberikan kepada papa. “Setuju!” jawab papaku dengan muka geram.

Lomba debat dimulai, tema yang diambila kali ini adalah “Toleransi di era modernisasi.” Semangat Ayu dalam memperjuangkan kesepakatan dengan ayahku membawa timku ke babak akhir. Dalam proses lomba, salah satu juri memberi pertanyaan pada timku sebagai babak penentu kemenangan.

“Toleransi adalah jalan utama dalam menjalin kehidupan. Kadang, masa lalu yang pedih membuat banyak orang segan untuk bertoleransi. Memori kotor yang sulit untuk dibersihkan. Jika masa lalu dibawa sampai masa sekarang, apakah hidup bisa dijalani? Dulu bukanlan sekarang dan sekaraang berbeda dengan dulu. Biarkan masalalu berefleksi, karena hari ini bukan masa lalu.” Tanggapan Ayu dengan penuh kepercayaan yang berkobar bagai petir membelah samudera untuk menjawab mosi dari dewan juri.

Ketegangan muncul dalam hati kami, karena takut jika kami kalah dan aku jauh dari Ayu. Pengumuman kejuaraan akhirnya disampaikan, detak jantung yang berdebar debar membuat kami ketakutan. “Juara dua, SMA Pelita….” seolah diriku hampir pingsan dan mulai meneteskan air mata, karena aku gagal meraih juara satu, dan itu artinya aku harus menjauhi Ayu.

“Dasar cengeng, tidak perlu menang kamu boleh dekat dengan Ayu.” Ungkap papa dalam kesedihanku.

Previous Article

LKBB (Latihan Keterampilan Baris Berbaris)

Next Article

TEKS TANGGAPAN

0
Shares
  • 0
  • +
  • 0
  • 0
  • 0
  • 0

GADW

Related articles More from author

  • Cerpen

    Watu Ireng

    July 28, 2020
    By GADW

Leave a reply Cancel reply

Lainnya

  • HumanioraLainnya

    Praktik Baik Pembiasaan Membaca Meningkatan Keterampilan Menulis dan Motivasi Belajar

  • GaleriLainnya

    Karya STS Ganjil Bahasa Indonesia Tahun Ajaran 2023/2024

  • Bahasa IndonesiaMateri Pembelajaran

    Materi 1-Perkenalan

Copyright © 2020 Dwi Wardoyo. All rights reserved.